Skip to content

Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab

May 10, 2011

METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

GRAMATIKAL DAN TERJEMAH

 

  1. A.    Pengertian Metodologi Pembelajaran Bahasa arab

Secara etimologi istilah metodologi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata Metodos yang berarti cara atau jalan, dan Logos artinya ilmu. Sedangkan secara semantik, metodologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang cara-cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisian.

Metodologi searti dengan kata metodik (methodentic) yaitu suatu penyelidikan yang sistematis dan formulasi metode yang akan digunakan dalam penelitian. Dengan kata lain metodologi adalah: ilmu tentang metode-metode yang mengkaji/ membahas mengenai bermacam-macam metode mengajar, tentang keunggulannya, kelemahannya, lebih tepat/ serasi untuk penyajian pelajaran apa, bagaimana, penerapannya dan sebagainya.

Maksud Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab adalah: cara atau jalan yang ditempuh bagaimana menyajikan bahan-bahan pelajaran dan bahasa arab. Agar mudah diterima, diserap dan dikuasai anak didik dengan baik dan menyenangkan.

Namun, perlu ditegaskan, pemakaian istilah Metodologi Pembelajaran lebih memberikan arti dan kesan, belajar dan mengajar tidak hanya teoritis tapi juga operasional dan dengan alasan ini pula penulis merasa lebih aman menggunakan istilah Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab.[1]

  1. B.     Metode-metode Pembelajaran Bahasa Arab

Adapun macam-macam metode Pembelajaran Bahasa Arab sebagai berikut:

  1. Metode Tata Bahasa (Gramatikal)

Metode tata bahasa yaitu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan menghafal aturan-aturan atau kaidah-kaidah tata bahasa arab yang mencakup nahwu sharaf. Metode ini juga sering disebut dengan metode tradisional. Dan metode tata bahasa ini sangat kuat berpegang pada disiplin mental dan pengembangan intelektual.

Kelebihan dari metode gramatikal adalah sebagai berkut:

  1. Siswa terbiasa menghafal kaidah-kaidah tata bahasa asing yang sangat diperlukan untuk mampu bercakap-cakap dalam bahasa asing yang benar, dan mampu menulis dengan betul.
  2. Melatih mental disiplin dan ulet dalam mempelajari bahasa.
  3. Bagi guru tidak terlalu sulit menerangkan metode ini, karena kemampuan percakapan tidak diutamakan, dengan kata lain guru asalkan ia menguasai gramatika/ tata bahasa yang baik maka pengajaran dapat dilaksanakan.[2]

Adapun kekurangan gramatikal adalah sebagai berikut:

  1. Secara didaktis dan psikologis, metode ini bertentangan dengan kenyataan. Bahwa penguasaan bahasa seseorang tidaklah didahului dengan pengajaran gramatika/ tata bahasa terlebih dahulu, tetapi melalui peniruan ucapan/ percakapan.
  2. Penguasaan gramatika/ tata bahasa tidak dengan sendirinya menguasai percakapan. Oleh sebab itu anak didik menjadi pasif, bertahun-tahun bahkan lebih dari 10 tahun belajar bahasa asing (Arab dan Inggris) tak bisa juga.
  3. Dapat membosankan/ jenuh terutama apabila guru tidak dapat menyajikan pelajaran secara baik dan menarik bagi siswa.[3]
  4. Metode Terjemah (Translation)

Metode terjemah yaitu metode menerjemahkan dengan kata lain menyajikan pelajaran dengan menerjemahkan buku-buku bacaan berbahasa asing ke dalam bahasa sehari-hari, dan buku bacaan tersebut tentunya telah direncanakan sebelumnya.[4]

Kelebihan metode translation adalah sebagai berikut:

  1. Metode ini tidak hanya mudah  melaksanakannya tapi juga murah. Karena melalui metode ini seorang guru yang mengajar tidak mesti menguasai bahasa asing secara aktif, atau pendidikan khusus untuk mengajar.
  2. Demikian juga dari pihak murid, melalui metode ini tidak menuntut siswa/ anak didik supaya ia cakap secara aktif berbahasa asing. Namun diharapkan dapat/ mampu membaca dan menerjemahkan bahasa asing secara baik dan benar.
  3. Dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan yang luas, karena dengan menguasai dan mampu menerjemahkan bahasa asing maka transformasi ilmu pengetahuan mudah diserap dan dikuasai.
  4. Dapat menghasilkan nilai tambah bagi siswa, di mana jika ia mampu/ terampil menerjemahkan buku-buku bacaan literatur-literatur ilmiah, hal ini dapat mendatangkan uang, sebagai biaya nafkah.[5]

Adapun kekurangan translation  adalah sebagai berikut:

  1. Pengajaran melalui metode ini kurang menjamin anak didik mampu bercakap bahasa asing.
  2. Agar dapat menerjemahkan bahasa asing secara baik dan benar, dituntut penguasaan gramatika/ kaidah-kaidah bahasa dan terjemah, di samping wawasan dan pengetahuan yang luas.
  3. Siswa dituntut untuk menguasai pembendaharaan kata-kata dalam bahasa asing (vocabulary), rajin membuka-buka buku, kamus, mencatat dan menghafal istilah-istilah serta kata-kata dalam bahasa asing.
  4. Kenyataannya guru yang profesional (jurusan bahasa asing) sekalipun tidak dengan sendirinya mampu menerjemahkan buku-buku bacaan dan buku-buku ilmiah. Oleh karena itu, langka sekali orang mampu menerjemahkan bahasa asing secara baik dan benar.[6]

Pada umumnya paling tidak, ada 3 syarat yang harus dimiliki jika inin menjadi penerjemah yang baik dan bebobot yaitu:

1)      Menguasai gramatika (kaidah-kaidah tata bahasa) dan kaidah-kaidah menerjemahkan.

2)      Kaya pembendaharaan kata-kata (vocabulary).

3)      Memiliki pengetahuan sosial dan wawasan luas.[7]

Metode terjemah ini berisi praktik penerjemahan naskah-naskah, dari yang mudah sampai yag sulit. Salah satu variasi dari metode terjemahan ialah metode terjemahan harfiah. Dalam metode terjemahan harfiah ini dilakukan sekaligus terjemahan dari kata ke kata dan terjemahan idiomatik atau terjemahan ungkapan-ungkapan.[8]

Sebagaimana metode tata bahasa, metode terjemah dapat diajarkan dalam kelas yang besar atau kecil, jumlah jam pengajaran tidak ditentukan: boleh banyak boleh sedikit, tergantung pada tujuan dan pengelolaan.[9]

Langkah-langkah pelaksanaan metode Translation (menerjemahkan) ini dapat dilakukan dengan cara guru menunjuk/ menentukan bahan-bahan bacaan yang akan diterjemahkan itu kepada siswa/ anak didik dan menetapkan pula pokok-pokok/ seri-seri pelajaran yang akan dipelajari (diterjemahkan). Kalau sudah diketahui bersama oleh siswa topik yang akan diterjemahkan itu, langkah berikutnya guru memulai membuka seri pertama pelajaran baru itu dan menerjemahkannya.Pada tingkat-tingkat dasar sebaik-baiknya siswa terlebih dahulu diperkenalkan dengan/ diajarkan kaidah-kaidah (aturan-aturan) dalam menerjemahkan. Jangan langsung menerjemahkan, namun setelah pengetahuan dasar menerjemahkan ini telah dimiliki/ dikuasai siswa barulah pelajaran menerjemahkan dapat dimulai.[10]

Dalam memulai pelajaran terjemahan ini guru dapat mengambil 2 (dua) cara:

1)      Guru langsung membacakan terjemahan itu terlebih dahulu baru kemudian diterjemahkan kata per kata dan kalimat per kalimat.

2)      Guru langsung secara bersama-sama melibatkan siswa menerjemahkan kata per kata, kalimat per kalimat secara seksama dalam bahasa asing itu, dan siswa sambil mencatat kata-kata yang dipandang penting dalam buku catatannya. Setelah selesai, guru bersama-sama siswa mengulanginya sekali lagi jika dipandang perlu. Setelah menyimpulkan pokok pengertiannya dari bahan bacaan yang diterjemahkan itu maka guru menyuruh salah seorang siswa untuk mengulangi lagi dan yang lain menyimak, memperhatikan dan membetulkan terjemahan kawannya. Demikian seterusnya hingga selesai seri per seri/ topik dari pelajaran terjemahan.[11]

3)      Metode Gramatika-Terjemah ( Grammatical Translation)

Metode ini merupakan  metode pembelajaran bahasa asing yang lebih dulu telah berkembang. Dari namanya bisa kita pahami bahwa dalam penerapannya metode ini banyak menekankan pada penggunaan gramatika (tata bahasa) dan praktik penerjemahan dari bahasa dan ke dalam bahasa sasaran. Metode ini bahkan  harus kita akui sebagai metode yang paling populer digunakan dalam pembelajaran bahasa Asing baik di sekolah, pesantren  maupun di perguruan tinggi.[12]

Metode ini merupakan gabungan antara metode gramatika dengan metode menerjemah (translation). Metode ini dapat dibilang ideal daripasa salah satu metode gramatika atau translation. Karena kelemahan dari salah satu atau keduanya dari metode tersebut (gramatika dan terjemah) telah sama-sama saling menutupi dan melengkapi (jadi kedua-duanya dilakukan bersama-sama, serentak) artinya materi gramatika (tata bahasa) terlebih dahulu diajarkan dan kemudian pelajaran menerjemah, pelaksanaannya sejalan.[13]

Dalam praktiknya metode gramatika-terjemah (tata bahasa dan terjemah)  mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a)      Pertama-tama para siswa mempelajari kaidah-kaidah gramatika (tata bahasa) dan daftar kosa kata dwibahasa yang berkaitan erat dengan bahan bacaan pada pelajaran yang bersangkutan. Tata bahasa dipelajari secara deduktif dengan bantuan  penjelasan-penje;asan yang panjang serta terperinci. Segala kaidah dipelajari dengan pengecualian dan ketidakbiasaan dijelaskan dengan istilah-istilah gramatikal atau  ketatabahasaan.

b)      Setelah kaidah-kaidah dan kosa kata dipelajari, maka petunjuk-petunjuk bagi penerjemahan latihan-latihan yang mengikuti penjelasan-penjelasan ketatabahasaan pun diberikan.

c)      Pemahaman-pemahaman akan kaidah-kaidah dan bahan bacaan pun diuji melelui terjemahan. Para siswa/ anak didik dapat dikatakan telah  dapat mempelajari bahasa tersebut kalau mereka dapat menerjemahkan paragraf-paragraf atau bagian-bagian prosa dengan baik.

d)     Bahasa asli/ bahasa ibu dan bahasa sasaran dibandingkan secara konstan. Tujuan pembelajaran adalah untuk mengalihkan bahasa sasaran (B1) ke bahasa ibu (B2), dan sebaliknya, dengan menggunakan kamus jika diperlukan.

e)      Memang sedikit kesempatan untuk praktik/ latihan menyimak dan berbicara selama penggunaan metode ini, karena lebih memusatkan perhatian pada latihan-latihan membaca dan terjemahan. Kebanyakan  waktu di kelas digunakan untuk membicarakan mengenai bahasa, dan sedikit waktu yang tersedia untuk menggunakan (berbicara di dalam dan dengan ) bahasa yang dipelajari (Omaggio 1986, Tarigan 1988).[14]

Selain ciri-ciri di atas, masih ada ciri-ciri lain penggunaan metode Gramatikal-Terjemah (tata bahasa dan terjemah) yang bisa dijelaskan, seperti yang dirangkum  Jack C. Richards dan Theodore S. Rodgers (1986), yaitu sebagai berikut:

a)      Tujuan telaah bahasa asing adalah mempelajari sesuatu bahasa agar dapat membaca susastranya atau agar dapat menarik keuntungan dari disiplin mental dan perkembangan intelektual yang timbul dari telaah bahasa asing itu. Terjemahan tata bahasa adalah suatucara menelaah bahasa yang mendekati bahasa tersebut pertama-tama melalui kaidah-kaidah tata bahasanya secara terperinci, diikuti oleh penerapan pengetahuan ini pada tugas penerjemahan kalimat-kalimat dan teks-teks ke dalam dan dari bahasa sasaran. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dipandang sebagai yang terdiri dari upaya yang melebihi serta memenipulasi morfaologi dan sintaksis bahasa asing tersebut. Bahasa pertama diperlakukan sebagai sistem acuan dalam pemerolehan bahasa kedua (Stern, 1987).

b)      Membaca dan menulis merupakan fokus utama atau sasaran pokok, bahkan sering tidak ada perhatian sistemik pada belajar berbicara dan menyimak.

c)      Pemilihan kosa kata semata-mata didasarkan pada teks-teks bacaan yang digunakan, dan kata-kata yang diajarkan melalui daftar-daftar kata dwibahasa, telaah kamus dan hafalan. Dalam teks terjemahan  tata bahasa  yang khas, kaidah-kaidah tata bahasa pun disajikan dan diilustrasikan, suatu daftar butir-butir kosa kata disajikan dengan padanan-padanan terjemahannya, dan latihan-latihan terjemahan ditetapkan.

d)     Kalimat merupakan unit dasar pengajaran dan praktik/ latihan bahasa. Kebanyakan dari jam pelajaran diperuntukkan bagi penerjemahan kalimat-kalimat ke dan bahasa sasaran dan justru fokus terhadap kalimat inilah yang merupakan ciri khusus metode ini.

e)      Kecermatan  dan ketepatan sangat ditekankan. Para siswa/ peserta didik diharapkan dapat m encapai norma-norma atau standar yang tinggi dalam terjemahan, karena prioritas utama yang diberikan pada norma-norma ketepatan dan kecermatan yang tinggi yang merupakan prasyarat bagi kelulusan sejumlah besar ujian tulis formal yang berkembang selama abad ini.

f)       Tata bahasa diajarkan secara deduktif, dengan penyajian dan pengkajian kaidah-kaidah tata bahasa, yang kemudian dipraktikkan melalui latihan-latihan terjemahan. Dalam kebanyakan teks terjemahan tata bahasa, suatu silabus diikuti dengan baik demi pengurutan butir-burtir tata bahasa di seluruh teks, dan ada upaya untuk mengajarkan tata bahasa dengan dan dalam suatu cara yang tersusun rapi dan sistematik.

g)      Bahasa asli/ ibu siswa merupakan media pengajaran. Bahasa tetrsebut dipakai untuk menjelaskan butir-butir  atau  hal baru dan untuk memudahkan perbuatan perbandingan antara bahasa asing dan bahasa ibu siswa.[15]

Kelebihan metode Gramatika-Terjemah adalah sebagai berikut:

a)      Tanpa disadari siswa/ peserta didik memperoleh pengetahuan dari keduanya (grammar dan translation) dengan pengetahuan menjadi utuh.

b)      Meskipun belum dengan sendirinya siswa dapat aktif/ lancar bercakap-cakap dalam berkomunikasi bahasa asing, tapi siswa paling tidak dapat berbahasa pasif, artinya dapat membaca dan menerjemahkan buku-buku bacaan, buletin, brosur, koran, majalah-majalah serta buku-buku ilmiah lainnya yang berbahasa asing.[16]

c)      Kelas-kelas besar dapat diajar.

d)     Guru yang tidak fasih bahasa Arab bisa dipakai.

e)      Cocok bagi semua tingkat linguistik para siswa (mubtadi’, mutawasith, mutaqaddim), para siswa dapat memperoleh aspek-aspek bahasa yang signifikan dengan bantuan buku saja tanpa pertolongan guru.[17]

Adapun kekurangan metode Gramatika-Terjemah adalah sebagai berikut:

a)      Pengajar hanya dapat menyusun/ membimbing siswa terampil berbahasa pasif. Sedangkan pengertian utama dari berbahasa ”adalah  berbicara lisan atau bercakap-cakap/ berdialog.

b)      Secara linguistik dibutuhkan guru yang terlatih.

c)      Kebanyakan pokok bahasan tidak mengenai orang tertentu, dan  terpisah serta terpencil dari yang lain.

d)     Tidak sesuai bagi orang yang tuna aksara, misalnya anak kecil atau imigran tertentu, sedikit sekali bahasa yang digunakan bagi komunikasi antar pribadi, kesempatan bagi pengemukaan tuturan atau ujaran spontan sangat terbatas.[18]


[1] Izzan, Ahmad. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora, 2009. (hlm. 72)

[2]Tayar Yusuf, Metodologi Pembelajaran , 176.

[3] Ibid.

[4] Ibid., 168

[5] Ibid., 16.

[6] Ibid.

[7] Izzan, Ahmad. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora, 2009. (hlm. 100).

[8] Parera, Jos Daniel. Linguistik Edukasional. Jakarta: Erlangga, 1994. (hlm.63).

[9] Ibid.

[10] Izzan, Ahmad. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora, 2009. (hlm. 98).

[11] Ibid

[12] Hamid, Abduul, Baharuddin, Uril dan Mustofa, Bisri. Pembelajaran Bahasa Arab Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media. Malang: UIN-Malang, 2008. (hlm. 18).

[13] Izzan, Ahmad. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora, 2009. (hlm. 100).

[14] Hamid, Abduul, Baharuddin, Uril dan Mustofa, Bisri. Pembelajaran Bahasa Arab Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media. Malang: UIN-Malang, 2008. (hlm. 19-20).

[15] Hamid, Abduul, Baharuddin, Uril dan Mustofa, Bisri. Pembelajaran Bahasa Arab Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media. Malang: UIN-Malang, 2008. (hlm. 19-20).

[16] Tayar Yusuf, Metodologi Pembelajaran , 171

[17] Hamid, Abduul, Baharuddin, Uril dan Mustofa, Bisri. Pembelajaran Bahasa Arab Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media. Malang: UIN-Malang, 2008. (hlm. 20).

DAFTAR PUSTAKA

Anshor, Ahmad Muhtadi. Pengaran Bahasa Arab Media dan Metode-metodenya. Yogyakarta: Teras, 2009.

Hamid, Abduul, Baharuddin, Uril dan Mustofa, Bisri. Pembelajaran Bahasa Arab Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media. Malang: UIN-Malang, 2008.

Izzan, Ahmad. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora, 2009.

Parera, Jos Daniel. Linguistik Edukasional. Jakarta: Erlangga, 1994.

Suyatno. Tekhnik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC, 2004.

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: