Skip to content

Psikolinguistik

May 10, 2011

MEMORI, PIKIRAN, DAN BAHASA

Memori merupakan bagian integral dari eksistensi manusia. Komunikasi dengan sesama manusia akan terhenti karena tanggapan terhadap ujian intelektor ditentukan pula oleh kemampuan memori kita untuk menerima dan menyimpan input itu untuk jangka waktu yang pendek dan secara sementara. Kita juga tidak akan bisa melanjutkan ujaran kita tanpa kita dapat mengingat apa yang baru saja kita ucapkan.

1. Sekilas Tentang Kajian Memori

Sampai dengan akhir abad ke 19, studi tentang memori kebanyakan dilakukan oleh para ahli filsafat. Akan tetapi, pada abad ke 20 secara gradual fokus penelitian beralih ke studi yang sifatnya eksperimental yang mula-mula dilakukan oleh para psikolog tetapi kemudian juga oleh para biolog.Sejak Socrates pertama-tama menyatakan bahwa manusia memiliki bekal kodrati waktu lahir.

Menjelang pertengahan abad ke 19 keberhasilan ilmu eksperimental di bidang fisika dan kimia mulai menarik perhatian mereka yang berkecimpung dalam bidang perilaku (behavior) dan minda. Eksplorasi filosofis secara perlahan telah digantikan dengan studi empirikal oleh kelompok yang kemudian dikenal dengan nama psikolog eksperimental yang dipelopori oleh ahli psikologi Jerman Herman Ebbinghaus (1850- 1909). Dialah yang pertama-tama berhasilk membawa studi tentang memori ke laboratorium (Ssquire dan Kandel 1993: 3-4) untuk dipelajari secara objektif dan kuantitatif. Dari penelitiannya muncul adanya dua macam memori: memori yang hidup singkat dan memori yang hidup lama. Dia dapati pula bahwa pengulangan membuat memori lebih panjang.

Psikolog Amerika William James tahun 1980-an kemudian mengembangkannya lebih lanjut dengan lebih menajamkan perbedaan antara memori jangka pendek (disingkat: memori pendek, short-term memory) dengan memori jangka panjang (memori panjang, long-term memory).

Pada abad ke 20 psikolog Rusia Ivan Pavlov mengajukan teorinya yang kemudian dikenal sebagai classical conditioning sementara Edward thorndike dari Amerika mengajukan operant, atau experimental, conditioning yang kemudian lebih dikenal sebagai  trial-and-eror learning.

2. Dimana Memori Disimpan?

Mengenai daerah mana memori disimpan, para ahli masih berbeda pendapat. Orang ang banyak disebut sebagai pelopor mengenai tempat memori di otak adalah Karl Lashley (1980-1958), psikolog di universitas Hardvard. Dari penelitiannya terhadap tikus pada tahun 20-an, dia dapati memori tidak berada pada suatu titik atau daerah tertentu di otak. Banyak bagian dari otak yang terlibat. Donald O. Hebb, universitas McGill, mendapati bahwa bagian-bagian ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda, meskipun semuanya menopang penyimpanan memori secara utuh.

Bahwa memori tidak terletak pada satu tempat di otak juga dikemukakan oleh ahli-ahli lain. Dengan memakai alat PET Tulving dan Lepage (2000) menunjukkan bahwa memori memang tidak berada di suatu tempat khusus di otak. Penemuan baru yang menarik dari penelitian yang dilakukan oleh Kapur dkk (1996) dan Cabeza dkk (1997) adalah bahwa penyimpanan memori dan retrival memori tidak berada pada tempat yang sama. Mereka dapati bahwa penyimpanan memori dilakukan oleh hemisfer kiri, khususnya di korteks prafrontal, korteks cingulate anterior, dan girus parahippocampal. Sementara itu, retrival memori dilakukan oleh hemisfer kanan pada tiga daerah yang sama ini. Pola ini kemudian dikenal dengan nama HERA Hesmispheric Encoding/ Retrival Asymmetry.

3. Macam-Macam Memori

Memori tidak hanya satu macam. Penfield dan Roberts (1959: 228-230) menyebutkan adanya memori pengalaman, memori konseptual, dan memori kata. Memori pengalaman adalah memori yang berkaitan dengan ihwal-ijwal di masa lalu. Makin lama suatu pengalaman, makan lama memori itu disimpan dan diingat. Memori konseptual adalah memori yang dipakai untuk membangun suatu konsep berdasarkan fakta-fakta yang masuk. Setelah anak diperkenalkan dengan konsep kupu-kupu, misalnya, dan kemudian melihat gambar-gambar kupu-kupu atau kupu-kupu yang lain, maka si anak akan membangun konsep mengenai binatang ini sehingga akhirnya tersimpanlah konsep kupu-kupu itu di memorinya. Memori kata adalah memori yang mengaitkan konsep dengan wujud bunyi dari konsep tersebut. Seseorang yang lupa nama suatu benda gagal memanfaatkan memori kata.

Sementara itu, ada pula yang membagi memori menjadi memori nondeklaratif dan deklaratif (Squire dan Kandel 1999). Memori nondeklaratif bersifat instingsif berasal dari pengalaman terjadi terwujud dalam bentuk perubahan perilaku, bukan rekoleksi terhadap peristiwa masa lalu. Memori deklaratif adalah memori untuk peristiwa, fakta, kata, muka, musik – segala bentuk pengetahuan yang telah kita peroleh dalam hidup. Bagaimana memori macam ini diperoleh  ditentukan oleh berbagai faktor. Pertama, unsur keseringan. Makin sering suatu peristiwa diulang, makin besar kemungkinannya memori untuk peristiwa itu akan tertanam. Kedua, faktor relevansi. Suatu peristiwa yang dari segi pengalam dirasakan relevan akan sangat mengesan dan akan menumbuhkan memori yang cukup lama, bahkan bisa seumur hidup. Ketiga, faktor signifikansi. Suatu hal yang signifikan umumnya akan diingat cukup lama. Keempat, faktor gladi kotor. Gladi kotor ini membuat seorang penyanyi atau penyair ingat isi lagu atau syairnya tetapi juga kata demi katanya. Kelima, faktor keteraturan. Entitas yang ditata secara teratur akan lebih mudah diingat daripada yang diletakkan secara acak. Psikolog seperti William James (1841-1910) membagi memori menjadi dua kelompok besar: memori pendek dan memori panjang. Memori pendek dibagi menjadi dua sub-bagian: memori sejenak (immediate memory) dan memori kerja (working memory).

4. Memori dan Hafalan

Hafalan adalah juga memori tetapi prosesnya berbeda. Memori bisa terbentuk tanpa kita mengadakan suatu usaha khusus untuk memperolehnya. Kalau seseorang menceritakan kejadian yang terjadi padanya tadi pagi, kejadian itu akan dapat masuk ke dalam memori kita hanya dari mendengarkan cerita itu. Sebaliknya, hafalan hanya akan dapat menjadi memori dengan suatu usaha atau tindakan yang khusus. Seorang aktor harus mempelajari berulang-ulang (menghafalkan) naskah yang akan diucapkannya. Dia menyimpan hafalan itu dalam memorinya.

 

 

5. Pikiran dan Bahasa

Pada masa lalu orang yang banyak memperbincangkan ihwal pikiran dan bahasa adalah para filosof. Namun diantara mereka sendiri, tidak ada kesepakatan. Sebagian berpandangan bahwa orang dapat berpikir tanpa memakai bahasa, sementara sebagian yang lain berpandangan sebaliknya. Filosof seperti Mueller (1887) berpandangan bahwa bahasa dan pikiran tidak dapat dipisahkan. Manusia tidak mungkin berpikir tanpa bahasa. Sebaliknya, Sir francis galton menyanggah pandangan ini.

Psikolog kemudian melakukan eksperimen untuk mengetahui lebih lanjut masalah ini. Piaget (1924/55), misalnya, meneliti anak-anak untuk melihat bagaimana bahasa terkait dengan pikiran. Menurut dia ada dua macam modus pikiran: Pikiran terarah (directed) atau pikiran inteligen (intelligent) dan pikiran tak-terarah atau ikiran autistik (autistic). Menurut dia, Kenyataan bahwa anak brbicara pada orang lain maupun pada dirinya sendiri menimbulkan pertanyaan apakah ada derajat komunikabilitas pada anak. Piaget percaya hal itu ada dan dia menemukan bentuk tengah ini sebagai pikiran egosentris dan bentuk bahasanya sebagai bahasa egosentris. Sosialisasi dengan anak lain menurunkan derajat egosentrisme. Makin besar sosialisasi itu, makin mengecillah ujaran egosentrisnay, dan lama-lama hilang.

Sementara itu, psikolog Rusia Vygotsky (1962) berpandangan bahwa ujaran egosentris tidak hilang tetapi mengalami transformasi genetik dan berubah menjadi apa yang dia namakan inner speech, Hubungan antara inner speech dengan external speech mau-tidak-mau harus memanfaatkan bunyi karena ujaran hanya dapat terwujud dengan bunyi fonetik. Namun, ini tidak berarti bahwa inner speech hanyalah wujud batin dari external speech. Inner speech masih tetap suatu ujaran, yakni, pikiran yang berkaitan dengan kata. Bedanya adalah bahwa pada external speech pikiran itu terwujudkan dalam kata sedangkan pada inner speech kata-kata itu lenyap pada saat pikiran itu terbentuk.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwapada saat anak tumbuh, berpikir yang terujarkan menjadi makin kecil dan setelah dewasa berpikir tidak lagi dilakukan dengan memakai kata yang terujarkan. Jarak yang makin jauh antara inner speech dengan bunyi fonetik yang dipakai untuk mewakilinya mempercepat proses berpikir.

REFERENSI:

Dardjowdjojo, Soenjono,  Psikolinguistik Pemahaman Bahasa Manusia, Jakarta:Yayasan  Obor  Indonesia, 2003.

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: