Skip to content

Hadits Tarbawy

May 9, 2011

PENDIDIKAN MORAL

 

  1. A.    Pengertian Pendidikan Moral

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Moral dari segi Bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik-buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.

Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, buruk.

Selanjutnya pengertian moral dijumpai dalam The Leaner’s Dictionary of Current English. Dalam buku ini dikemukakan beberapa pengertian moral sebagai berikut:

1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.

2. Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan  salah.

3. Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.

Berdasarkan kutipan diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Jika dalm kehidupan sehari-hari dikatakan orang tersebut bermoral, maka yang dimaksudkan adalah bahwa orang tersebut tingkah lakunya baik.

Sebenarnya etika dan moral  sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedag dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai yang ada.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau sistem  diyakini oleh masyarakat akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai sudah mendarah-daging dalam diri seseorang maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar. Orang yang demikian adalah orang yang memiliki kesadaran moral, atau orang yang telah bermoral.

Jadi pendidikan moral adalah proses pembelajaran yang mengajarkan tentang cara berbicara, bersikap, dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma, agama dan adat-istiadat.

  1. B.     Hadits Tentang Pendidikan Moral

١  .حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ أَبَا النَّضْرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَعْني ابْنَ دِينَارٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Artinya:

Abdullah bin Munir bercerita kepadaku Beliau mendengar Abu an-Nadhar, telah bercerita kepada kami  Abdur Rahman bin Abdillah yaitu Ibn Dhinar dari Ayahnya dari Abu Sholih dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Bersabda : “ Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan perkataan yang diridhai Allah dia tidak akan mendapatkan apa-apa akan tetapi allah akan mengangkat derajatnya. Dan barang siapa yang berbicara dengan perkataan yang dimurkai allah dia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali akan jatuh ke neraka jahannam.

المفردات

يتكلّم              : Berbicara

رضوان              : Keridhoan

يلقي               :Menjumpai

يرفع                :Mengangkat

سخط              :Kemurkaan

يهوي               : Jatuh

Syarah Hadits

Hadits di atas menjelaskan bahwasannya orang yang berkata baik artinya menyampaikan apa yang ada pada kitab Allah maka Allah meridhoinya dan mengangkat derajatnya. Dan sebaliknya seorang yang berkata buruk artinya berkata bohong atau tidak sesuai dengan perintah Allah dan kenyataan yang ada maka Allah akan memurkainya, sehingga menjatuhkannnya kedalam neraka jahannam.

Derajat Hadits

Hadits tersebut kedudukannya sebagai Hadits Shahih Imam Tirmidzi.

٢.حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْأَزْدِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ

Artinya:

Muhammad bin yahya al-azdi al-bashri telah bercerita kepadaku, telah bercerita kepada kami Muhammad bin sabiq dari israil dari a’masy dari ibrahim dari ‘alqomah dari abdillah berkata, rasullah SAW. Berkata orang mukmin itu bukan penikam, bukan pelaknat, bukan orang yang berbuat keji dan kotor dan bukan orang yag pendendam. Abu ‘isa berkata bahwa hadits ini adalah hadits hasan yang ghorib dan telah diceritakan dari abdillah dari selain pendapat tersebut.

المفردات

المؤمن         :Orang Mukmin

الطّعّان                :Penikam

الّلعّان         : Pelaknat

الفاحش      :Orang yang berbuat keji

البذيء        :Pendendam

Syarah Hadits

Hadist ini menjelaskan bahwasanya seorang mukmin adalah orang yang perkataan, sikap dan perbuatannya baik, serta sopan santun, bukan sebagai penikam, pelaknat, tidak berkata dan berbuat keji, serta bukan pendendam.

Derajat Hadits

Menurut Abu ‘Isa Hadits di atas kedudukannya sebagai Hadits hasan yang Gharib.

  1. C.    Ayat al-Qur’an yang Terkait dengan Kedua Hadits Tersebut
    1. QS an-Nur [24]: 15

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (النور:١٥)

Artinya:

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

  1. QS al-Hujurat [49]:12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (الحجرات:١٢)

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

 

Adapun Hubungan kedua ayat tersebut dengan kedua hadits di atas menjelaskan bahwasanya segala perkataan dan perbuatan manusia sekecil apapun di dunia akan dipertanggungjawabkan dan mendapatkan balasan kelak di akhirat. Jika yang dilakukan di dunia berupa amal shalih maka Allah akan meridhainya dan mengangkat derajatnya, begitu juga sebaliknya jika amal yang dilakukan berupa amal yang yang buruk maka Allah akan memurkainya dan menjatuhkannya ke dalam api neraka. Jadi sebagai orang mukmin hendaklah bermal shalih dan  menghindari perkataan dan perbuatan buruk seperti berburuk sangka kepada orang lain, menggunjing, pendendam dan semua akhlak tercela lainnya. Jadi kedua ayat dan hadits tersebut mejelaskan betapa penting pendidikan moral bagi manusia dan begitu jelas balasan-balasannya baik bagi yang moralnya baik ataupun buruk.


From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: