Skip to content

Statistik

May 10, 2011

POPULASI DAN SAMPLE

  1. Populasi

Populasi adalah himpunan semua individu atau objek yang menjadi bahan pembicaraan atau bahan studi oleh peneliti (seluruh elemen penelitian), biasanya dapat berupa orang, produk, lembaga, industri dan sebagainya. Penelitiannya biasanya disebut sebagai penelitian sensus dan anggotanya disebut elemen. Sedangkan gambaran ringkasan variabel dalam populasi/ karakteristik dari populasi disebut Parameter.

Contoh, misalnya populasi dari seluruh konsumen telpon genggam merk tertentu di Indonesia, seluruh HP merk tertentu di Indonesia, dan lain-lain.

Populasi dapat berhingga dan atau tak berhingga. Misalnya populasi dari semua bola lampu pijar yang diproduksi disuatu pabrik setiap hari adalah berhingga, sedangkan populasi dari semua kejadian lamanya hidup bola lampu pijar tersebut adalah tak terhingga.

  1. Sampel

Sampel adalah himpunan bagian dari populasi yang dipilih oleh peneliti untuk diobservasi (bagian dari seluruh elemen penelitian). Penelitiannya biasanya disebut survei dan anggotanya disebut subjek. Sedangkan gambaran ringkasan variabel dalam sampel/ karakteristik dari sampel disebut Statistik.

Contoh, misalnya ketika kita ingin mengetahui rasa suatu jenis masakan. Populasinya adalah seluruh masakan yang tersedia. Untuk mengetahui rasa masakan itu kita hanya mencicipi satu sendok saja sebagai sampel, bukan harus menghabiskan seluruh masakannya. Selain itu misalnya dalam kasus populasi wanita di dunia tersebut, peneliti dapat mengambil sampel dengan membatasi secara khusus hanya pada wanita yang mempunyai hak pilih di suatu negara.

Sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili) agar tidak terjadi kesalahan sampel yaitu kesalahan prosedur dan kesalahan penggunaan statistik untuk estimasi parameter.

  1. Proses Pemilihan Populasi dan Sampel
    1. Pemilihan Populasi

Di antara hal yang perlu dipertimbangkan untuk mengamati seluruh anggota populasi adalah:

1)         Pertimbangan biaya

Bagaimana kita mengamati pendapatan penduduk di seluruh Indonesia, jika biaya dan tenaga pengamatan tidak mencukupi.

2)        Mustahil untuk dilakukan

Misalnya untuk mengetahui rata-rata suatu jenis ikan di laut, mungkin mustahil dilakukan jika kita mengukur semuanya.

3)        Tidak perlu dilakukan mengingat sifat populasinya itu sendiri

Suatu populasi dapat berukuran sangat besar, sehingga kita tidak mungkin atau sulit untuk menentukan banyaknya atau bahkan mengkajinya. Seperti populasi wanita di dunia, spesies ikan yang hidup di danau, produksi batrei dari suatu perusahaan batrei, dan lain-lain.

  1. Pemilihan Sampel

Alasan atau pertimbangan pengambilan sampel adalah:

  1. Kendala sumberdaya

Kendala waktu, dana, dan sumberdaya lain yang terbatas jumlahnya. Penggunaan sampel akan menghemat sumberdaya untuk menghasilkan penelitian yang lebih dapat dipercaya dibandingkan sensus.

  1. Ketepatan/mewakili (Representatif)

Melalui pemilihan desain sampel yang baik, peneliti akan memperoleh data yang akurat dengan tingkat kesalahan yang relatif rendah. Oleh karena itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).

  1. Pengukuran destruktif

Adakalanya pengukuran yang dilakukan merupakan pengukuran destruktif. Contoh sebuah perusahaan ban harus menguji kemampuan produknya dalam menyimpan udara, maka ditiupnya setiap ban hingga meletus, sehingga terjadi kehabisan produk di pasar. Tentunya hal ini tidak mungkin dilakukan, perusahaan akan rugi karena tidak ada ban yang dapat dijual.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan sampel:
    1. Homogenitas

Homogen unit pemilihan sampel sangat mempengaruhi jumlah sampel yang layak untuk suatu penelitian. Semakin homogen unit pemilihan sampel, semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan agar dapat mewakili karakteristik populasinya, begitu juga sebaliknya.

  1. Derajat kepercayaan

Derajat kepercayaan mengukur seberapa jauh peneliti yakin dalam mengestimasi parameter populasi secara benar. Derajat kepercayaan biasanya dinyatakan dalam probabilitas, misalnya 99%. Dengan asumsi faktor lain tetap, sampel yang lebih banyak diperlukan jika derajat kepercayaan meningkat.

  1. Presisi (Ketelitian)

Presisi mengukur kesalahan standar dari estimasi yang dilakukan. Artinya, bahwa harapan penyimpangan terhadap populasi dihitung dengan deviasi standar. Deviasi standar diperoleh berdasarkan studi pendahuluan (pilot study). Dengan asumsi faktor lain tetap, makin tinggi prestasi yang diinginkan, makin banyak jumlah sampel yang diperlukan.

  1. Prosedur analisis

Beberapa model analisis tertentu memerlukan sampel dalam jumlah tertentu. Karena itu, peneliti perlu mempertimbangkan jumlah sampel yang diperlukan sesuai dengan model analisis yang akan digunakan.

  1. Kendala sumberdaya

Semakin besar jumlah sampel yang digunakan untuk panggilan data, pencerminan keadaan populasi akan semakin baik. Namun kenyataannya, kendala sumberdaya tidak jarang menjadi penghalang untuk melakukan sesuatu yang ideal. Keterbatasan waktu, dana, dan juga sumberdaya manusia sering menjadi pembatas yang sangat menetukan dalam penentuan jumlah sampel yang layak dalam suatu penelitian.

  1. Pengambilan Sampel (Teknik Sampling)

Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel.

Macam-macam teknik sampling:

a. Probability sampling

Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberiikan peluang populasi yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

Adapun probability sampling dibagi menjadi empat macam, sebagai berikut:

  1. Simple random sampling

Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Hal ini dilakukan jika anggota populasi dianggap homogen. Contoh: memilih bilangan dari daftar bilangan secara acak (dengan cara undian).

  1. Proportionate stratified random sampling

Teknik ini dilakukan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proposional.

Contoh: Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya, jumlah pegawai yang lulus S1=45, S2=30, STM=800, ST=900, SMEA=400, SD=300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut.

  1. Disproportionate stratified random sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

Contoh: misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 0rang lulusan s2, 90 orang lulusan S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang lulusan S2 itu diambil semuanya sebagai sampel, karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SMP.

  1. Cluster sampling(Area Sampling)

Teknik ini digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menetukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampel ditetapkan secara bertahap dari wilayah yang luas (negara) sampai ke wilayah terkecil (kabupaten) Setelah sampel terkecil terpilih, kemudian baru dipilih sampel secara acak.

Teknik sampling di daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menetukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menetukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga.

b. Nonprobability sampling

Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yag tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Adapun Nonprobability sampling dibagi menjadi 5 macam, sebagai berikut:

  1. Sampling sistematis

Teknik pengambilan sampel ini berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya, anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu. Misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk ini maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 1,5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.

  1. Sampling kuota

Teknik ini digunakan untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

Contoh: Jumlah sampel yang ditentukan 500 0rang. Kalau pengumpulan data belum memenuhi kuota 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai.Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 orang sampel.

  1. \Sampling insidental

Teknik penentuan sampel ini berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

  1. Sampling purposive

Teknik penentuan sampel ini dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian yang tidak melakukan generalisasi.

  1. Sampling jenuh

Teknik ini digunakan bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil. Istilah lain sampling ini adalah sensus, yang mana semua anggota populasi dijadikan sampel.

  1. Snowball sampling

Teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah semakin banyak. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball. Misalnya akan meneliti siapa provokator kerusuhan/jaringan teroris maka akan cocok menggunakan Purposive dan Snowball sampling.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–          Murray R. Spiegle, John J. Schiller, R. Alu Srinivasan, Probabilitas dan Statistik (edisi kedua),Jakarta: Erlangga, 2004.

–          Puguh Suharso, Metode Penelitian Kuantitatif untuk Bisnis, Jakarta: Permata Puri Media, 2009.

–          Drs. Turmudi, M.Si., Sri Harini, M.Si., Metode Statistika, Malang: UIN-Malang Press, 2008.

–          Prof. DR. Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, Bandung: CV. Alfabeta, 2007.

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: